Sabtu, 06 Februari 2010

Kasih Kristus

Ini adalah sebuah kisah yang dituliskan dari Australia:

Suatu pagi, aku terbangun untuk melihat matahari terbit.

Ah, ciptaan Tuhan memang begitu indah!
Sambil menyaksikan semua ini, aku memuji-muji Tuhan atas karyaNya yang begitu indah.

Saat aku terduduk di situ, aku merasakan kehadiran Allah, Tuhanku Yesus Kristus datang kepadaku...

Ia bertanya,”Apakah engkau mencintai Aku?”

Aku menjawab,”Tentu saja, Engkau adalah Tuhan dan Juru selamatku!”

Kemudian Ia bertanya,”Sekiranya tubuhmu cacat, apakah engkau akan tetap mencintai Aku?” Aku tertegun, dan melihat kedua kaki dan tanganku. Ah, alangkah sulitnya hidup ini, dengan tubuh yang cacat! Tetapi aku menjawab,”Tuhanku, jika aku cacat, akan sangat susah bagiku, tetapi aku akan tetap mencintai Engkau.”

Kemudian Tuhan Yesus bertanya,”Sekiranya matamu tak dapat melihat, apakah engkau tetap bersyukur atas segala ciptaanKu?” Secara tiba-tiba aku terbayang orang-orang tuna netra di seluruh dunia dan bagaimana mereka tetap memuji dan bersyukur atas segala ciptaan Tuhan. Jadi aku menjawab,”Alangkah sulitnya jika aku tidak dapat melihat, Tuhanku, tetapi aku tetap akan bersyukur atas segala ciptaanMu.”

Kemudian Tuhan Yesus berkata,”Sekiranya engkau tidak dapat mendengar, apakah engkau tetap akan setia kepada setiap FirmanKu?” Lalu aku berpikir, bagaimana mungkin aku mendengarkan Firman Allah jika aku tuli? Tetapi kemudian aku tersentak, dan menyadari bahwa aku perlu mendengar Firman Allah dengan hati, bukan dengan telinga saja. Maka aku menjawab,”Alangkah sulitnya Tuhan, jika aku tuli, tetapi aku akan tetap mendengar segala FirmanMu.”

Kemudian Tuhan Yesus bertanya,”Sekiranya engkau tidak dapat berkata-kata dalam hidupmu, apakah engkau tetap akan memuji NamaKu?” Bagimana mungkin aku menyampaikan puji-pujian tanpa suara? Tetapi akupun sadar bahwa Tuhan ingin puji-pujian itu berasal dari hatiku yang paling dalam dan dari ketulusan jiwaku. Maka akupun menjawab,”Alangkah sulitnya, Tuhan, jika aku tidak dapat berkata-kata, tetapi aku akan tetap bernyanyi didalam hatiku, memuji dan bersyukur kepadaMu.”

Kemudian Tuhan Yesus bertanya,”Apakah engkau mencintai Aku?”

Dengan penuh keyakinan, aku menjawab,”Ya, Tuhanku, aku mencintai Engkau karena Engkaulah Allah yang Maha Kuasa!”

Aku pikir, aku telah menjawab pertanyaan Tuhanku dengan baik....

Kemudian Tuhan Yesus bertanya,”Lalu, mengapa engkau tetap berbuat dosa?”

“Mengapa engkau menjauh dariKu disaat-saat kesukacitaanmu? Dan engkau mencari-cari Aku dalam seruan doa-doamu disaat Engkau kesusahan?

Aku tidak menjawab. Hanya air mata yang mengalir.

Kemudian Tuhan Yesus melanjutkan,”Mengapa engkau hanya bernyanyi memujiKu disaat kebaktian dan retretmu? Mengapa engkau mencari-cari Aku hanya saat beribadah? Mengapa engkau meminta-minta terus hanya untuk kepuasan dirimu sendiri? Mengapa engkau meminta-minta kepadaKu tanpa kesetiaan?”

Air mataku terus mengalir.

“Mengapa engkau tidak menyampaikan FirmanKu pada semua orang? Mengapa engkau mencari-cari alasan saat Aku memberikanmu kesempatan kepadamu untuk memuliakan namaKu?”

Aku mencoba untuk menjawab. Tapi tidak ada jawaban.

“Engkau telah Kuberkati dengan Hidup. Aku menciptakanmu bukan untuk menyia-nyiakan pemberianKu itu. Aku telah memberkatimu dengan berbagai talenta untuk melayaniKu dengan kasih, tetapi engkau terus berpaling daripadaKu. Aku telah menyingkapkan FirmanKu kepadamu, tetapi engkau tidak bertambah dalam pengertianmu. Aku telah berbicara kepadamu, tetapi telinga hatimu tertutup rapat. Aku telah menunjukkan berkat-berkatKu kepadamu, tetapi matamu tidak mau melihat. Tetapi Aku telah mendengarkan doa-doamu, anakKu, dan Aku telah menjawabnya.”

“Apakah engkau mencintai Aku?” tanya Tuhan Yesus sekali lagi.

Aku tidak bisa menjawab. Aku teramat sedih dan malu.

Aku tidak memiliki alasan lagi. Setelah aku meratap dalam tangis, aku berkata,”Ampuni aku, Tuhan, aku tidak layak menjadi anakMu.”

Tetapi Tuhan Yesus menjawab,”AnakKu... anakKu yang Kukasihi, Aku sangat mencintaimu!”

Aku menjawab,”Mengapa Engkau selalu mau mengampuni aku? Mengapa Engkau mengasihi aku seperti itu?”

Tuhan Yesus menjawab,”Karena engkau adalah ciptaanKu. Engkau adalah anakKu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

“Disaat engkau menangis, Aku tahu kesedihanmu dan Akupun menangis disisimu. Disaat engkau bersuka cita, Akupun tertawa bersamamu. Disaat engkau putus asa, Aku datang memberikan semangat bagimu. Disaat engkau terjatuh, Aku mengulurkan tanganKu untuk mengangkatmu. Disaat engkau lelah, Aku mengangkatmu didalam dekapan pelukanKu. Aku akan selalu bersertamu dan mencintaimu sampai akhir segala zaman.”

Aku tidak pernah menangis seperti saat itu. Bagaimana mungkin aku bisa begitu dingin terhadap Allahku. Bagaimana mungkin aku menyakiti hati Tuhan, setelah begitu banyak yang telah dilakukanNya bagiku?

Lalu aku bertanya kepada Tuhan Yesus,”Tuhan, seberapa besarkah kasihMu bagiku?”

Kemudian Tuhan Yesus membuka tanganNya lebar-lebar. Dan aku melihat tanganNya yang luka karena paku di kayu salib, dan aku teringat akan segala kesengsaraanNya. Kesengsaraan sampai mati, karena kasih.

Aku tersungkur di kaki Kristus, Juru Selamatku.

Bersujud dan menangis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar