Senin, 15 Februari 2010

THE PASSION Of JESUS CHRIST OF JIM CAVIEZEL

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam
Film "The Passion Of Jesus Christ".

Jim caviezel adalah seorang aktor biasa dengan peran2 kecil dalam film2 yang juga tidak besar. Peran terbaik yang pernah dimilikinya (sebelum the passion) adalah sebuah film perang yang berjudul " the thin red line".
Itupun hanya salah satu peran dari begitu banyak aktor besar yang berperan dalam film
kolosal itu.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi
menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari
memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan
akhirnya musuh pun mengepung dan membunuhnya.

Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik
perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk
memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang
tepat untuk memerankannya.

"Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam
sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi
sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah
ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah?, Dia ini Tuhan,
siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan
memerankannya? Mereka pasti bercanda.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, "Hallo ini, Mel". Kata
suara dari telpon tersebut. "Mel siapa?", Tanya saya bingung. Saya tidak
menyangka
kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang
terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film
yang akan dibuatnya. Film tentang
Tuhan Yesus yang berbeda dari film2
lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat
sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek
alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko
terbesar
yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini,
mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.
Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut.
Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi
dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh
sekelompok
orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di
Hollywood. Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film
itu, saya katakan
padanya. "Mel apakah engkau memilihku karena inisial
namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang
33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?"

Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi
agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari
perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di "Thin Red
Line". Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda
panggilanku,
semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka
ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita
buat film ini!

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan
karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya
melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang
Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan.
Pertanyaan-pertanya an
tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut
pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak
lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua
ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu
saya
bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari
keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga
memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.
Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA
dan
kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun
cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya
sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh
hidup saya.

Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah
peran
sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin
menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk
dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.
Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau
yang
telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang
mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan
membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku,
maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada
bayangan
saya. Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan
tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang
hampir
tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai
sambil minum kopi. Kostum kasar yang
sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya
sangat
tertekan.

Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul
oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya
kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik,
padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak
mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat
tenaga.Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan
tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong
kesakitan,
minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka
tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai
memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan
sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera
memberikan
saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti
itu,
namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam
pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah
saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau
saya
menolak untuk melanjutkan film itu.

Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan
Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau
memikul
salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya
walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini.
Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan
dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan
mengulang
seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam
film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian
syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan,
baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus.
Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu
sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm.
Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai
bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak
kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk
saya..
Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.
Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian
penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju,
para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk
menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas
kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari
bukit itu bertiup
seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia
(penyekit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh
tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka
harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.
Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh
depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas
kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton
dan
menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu
lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada
batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir
gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari
jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada
Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar
memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih
tidak bisa
membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana
menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan
luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun
jiwaNya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu
adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung
gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami.
Tapi
Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu
sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang
diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping
kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk
dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun
karena takut pada petir, sebuah
sakit yang luar biasa menghantam saya
beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun
tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan
nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling
saya, sambil berteriak-teriak "dia sadar! dia sadar!".
"Apa yang telah terjadi?" Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah
halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka
segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan
rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau
saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, "Tuhan,
apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini
terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan"? Namun saya terus
berjalan, kita harus melakukan
apa yang harus kita lakukan. Selama itu
benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap
iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam
ujian.
Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu
memerankan Yesus. Oh? itu sangat luar biasa? mengagumkan? tidak dapat
saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat
Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada
disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.
Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat
dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak
ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya
itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan
menerima
Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh
luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan
profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu
mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi.
Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan
tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus
memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film
ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak
melihat
saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai
aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian
mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.
Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak
banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa
menjadi kebiasaan yang tak
terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah
hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. .

7 komentar:

  1. wow, ga sangka pembuatannya segitu sulit, dan banyak mujizat yg terjadi di pembuatannya. God is Great

    BalasHapus
  2. DAHSYAT YA,!!.
    Saya terkagum2 akan campur tangan TUHAN sendiri, dalam film The Passion of the CHRIST.

    BalasHapus
  3. TUHAN mau setiap orang mengalami perjumpaan pribadi dengan-NYA, ITULAH TITIK BALIK PERUBAHAN seseorang setelah mengalami kasih TUHAN YANG BESAR

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  5. Melalui Film ini kita diberitahu nama sebenarnya dari sang juru selamat, yang biasa kita kenal yaitu YESHUA, Dialah sang penyelemat umat manusia. Silahkan kunjungi: http://www.alfa-omega.or.id

    BalasHapus
  6. Keputusan Jim Caviezel mengikuti peran yg ditawarkan sutradara Mel Gibson sungguh luar biasa, mengubah pola hidup yang menyaksikan. Thanks saudaraku Jim, engkau menjadi saksi didunia ini. Praise the Lord!

    BalasHapus